Seberapa Jauh Kepekaan Seorang Mahasiswa?

       Peka, peka, peka. Siapa sih diantara kita anak-anak muda, atau siapapun Anda yang sedang membaca blog ini, yang tidak tahu arti peka? Hmmm... harusnya sih tau semua ya. At least, to some people who don't know it yet, let me explain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "peka" adalah sensitif atau mudah merasa, terpengaruh dan bereaksi atas suatu rangsangan kondisi tertentu. Jujur, akhir-akhir ini aku sering bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah aku sudah cukup peka sebagai seorang mahasiswa? Aku gak berharap banyak-banyak saat kalian sudah membaca karyaku kali ini. Satu hal saja muncul dalam pikiran kalian " Seberapa jauh kepekaan saya sebagai seorang mahasiswa dan apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang mahasiswa?" Kenapa mahasiswa? Bukan berarti karya-karya yang aku tuliskan ini hanya berfokus kepada mahasiswa, melainkan aku ingin menekankan kepada jiwa-jiwa muda di Indonesia mengenai arti kepekaan, semangat toleransi dan semangat belajar. Karena pemuda adalah penopang dan titik penentu di era globalisasi ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Hmm.. ya memang sih aku hanyalah mahasiswi semester 2 di Universitas Kristen Petra. Aku sadar banyak temen-temen di luar sana yang lebih pintar, lebih berpengalaman dan lebih hebat daripada aku. But, apa salahnya sih mencoba berdampak? Aku cuman ingin berbagi suatu realita yang aku rasakan dan aku lihat di negaraku sekarang. Merdeka? sudah. Ideologi? sudah ada. Ateis? Di Indonesia rata-rata penduduknya semua memeluk suatu agama masing-masing. Tapi, pernahkah kalian berpikir bahwa masih ada keganjalan dan kesenjangan dalam suatu negara yang katanya merdeka ini? Katanya merdeka, tapi masih terbelenggu dengan kesenjangan sosial. Katanya negara berbhineka dan berideologi Pancasila, namun masih membenci dan menjelek-jelekkan orang-orang dari agama lain. Pernah tidak saat kalian menapakkan kaki di bangku perkuliahan ini, 5 menit saja terlintas pikiran mengenai kondisi negara Indonesia sekarang ini? Apa yang kalian ketahui? Sudah tahu mengenai menteri kita, Sri Mulyani yang menerima penghargaan sebagai menteri terbaik di dunia? Sudah dengar tentang kasus serangan di gereja katolik St. Lidwina Sleman Yogyakarta? Gimana dong kalau ada penduduk mancanegara yang lebih tau mengenai kasus-kasus tersebut dibandingkan kita yang merupakan penduduk asli Indonesia? Aku menuliskan tulisan bertemakan "kepekaan mahasiswa" ini bukan semata-mata mendorong kalian untuk langsung mengikuti audisi Miss Indonesia, menjadi ketua BEM dan hal-hal lain yang kalian pandang dengan seperti itu kalian bisa membawa dampak bagi Indonesia. Tidak teman-teman. Aku ingin kalian memulai kepekaan itu dari diri kalian sendiri dengan cara menyingkirkan sejenak keegoisan kalian dalam menjalani hidup ini untuk sesuatu yang lebih penting. Bagaimana caranya ? Pertama, mulailah membaca. Budayakan membaca dalam hidupmu. Tanpa membaca kita tidak bisa memiliki pengetahuan yang luas dan tidak akan pernah bisa mendambakan Indonesia sebagai negara yang maju kalau generasi mudanya saja sudah tidak ada niat untuk membaca. Suka atau tidak suka, enjoy atau biking ngantuk, kalian harus memaksakan diri kalian untuk membaca, karena salah satu kelemahan generasi muda Indonesia ialah kurangnya pengetahuan yang disebabkan oleh kemalasan mereka dalam membaca. Kedua, gunakanlah sosial media dengan bijak. Bicara tentang sosial media sepertinya sudah tidak asing lagi ya teman-teman. Bahkan mungkin ada yang sudah tidak bisa hidup lagi tanpa gadget atau sosial media. Permasalahannya ialah, pemuda - pemudi Indonesia terkadang menyalahgunakan penggunaan gadget ini untuk hal-hal yang tidak seberapa penting, atau malah tidak penting. Bukan bermaksud melarang kalian membeli baju dari online shop di instagram atau stalker idola kalian dan lain-lain. Tapi yang ingin aku tekankan di sini ialah, yang namanya mahasiswa itu sudah harus dewasa teman-teman. Sudah harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk serta memprioritaskan mana yang penting dan tidak penting. Sudah harus mulai berpikir "What can I do?" daripada "What they or something else can do for me ?" Daripada kalian menggosip tentang kejelekan sifat-sifat teman kalian atau tentang perselingkuhan artis-artis, yuk mulai merubah konsep berpikir menjadi lebih dewasa. Isi feed instagram kalian dengan hal-hal yang menginspirasi dan membangun semangat jiwa anak-anak muda. Budayakan membaca caption jangan asal like foto mereka, karena hal kecil seperti ini termasuk salah satu cara menghargai lho teman-teman. Kalau di kampus bertemu dengan petugas kebersihan yuk jangan sungkan-sungkan mengucapkan selamat pagi atau terima kasih, karena tidak hanya dosen dan mahasiswa saja yang menjadi bagian dari suatu universitas teman-teman. Tanpa jasa para petugas keamanan dan petugas kebersihan di kampus, proses belajar mengajar pun tidak bisa berjalan dengan lancar. Selain itu, jalinlah hubungan yang harmonis dengan semua orang, baik itu yang seagama dengan kalian maupun yang tidak seagama dengan kalian. Tahu sendiri kan, kalau semangat toleransi dan persatuan di Indonesia sudah mulai rapuh? Sadar atau tidak sebenarnya hal inilah yang menjadi pokok permasalahan negara kita guys. Kurangnya kasih dan semangat persaudaran antar satu sama lain. Mungkin selama ini kebanyakan dari kita, saya dan Anda berpikir untuk mencegah frekuensi kecelakaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, kita harus memperbaiki fasilitas jalan raya dan lain-lain. Itu benar sih teman-teman. Namun, jika kita hanya berpikiran seperti itu, kita hanya menyelesaikan masalah secara dangkal saja. Akar permasalahan dari semua masalah-masalah yang ada di Indonesia, baik itu dari segi keamanan, sosial, politik dan budaya ialah kurangnya perasaan mengasihi dan semangat persatuan antar masyarakat satu dengan yang lain. Jika kita saling menghargai dan saling mengasihi antar manusia, tentunya mereka akan saling menghargai dan mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, sehingga permasalahn-permasalahan yang sering terjadi pun dapat dicegah semaksimal mungkin. Oleh karena itu, kalau bukan kita siapa lagi teman-teman? Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan karena Dia masih memberikan kekayaan alam dan kebaikan-kebaikan yang tak pernah habis di setiap harinya. Namun itu bukan berarti kita harus tutup mata terhadap realita dan pasif terhadap kondisi Indonesia kita. Sekian teman-teman untuk inspirasiku kali ini. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah berdasarkan pemikiran dan curahan hatiku dari pengalaman yang aku temui, jumpai dan rasakan. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Tuhan memberkati. Salam : #AnakMudaBerkarya

Komentar

  1. Baguss, bisa buat jiwa2 muda makin berkarya dan berdampak buat sekitarnya

    BalasHapus

Posting Komentar